Twitter has once again proven its significance as the media that facilitates social movement in the bomb blast tragedy in Jakarta. Twitter, a social network website which provide a room for people to communicate with their networks by answering a simple question of “what are you doing?” has been turned by its users into a media to spread far more important information than breakfast menu or recent career promotion. Twitter has become the place for global celebration of information and a social movement mediator. Continue Reading »
Banyak kesempatan lewat hanya karena keraguan.
Berada di zona nyaman karier memang menyenangkan. Kita hidup dalam stabilitas. Dalam masa krisis, siapa yang tidak merindukan stabilitas, kan?
Stabilitas karier dan penghasilan biasanya datang bersamaan dengan stabilitas keahlian. Kita menjadi sangat tahu dan sangat bisa mengerjakan apa yang kita kerjakan saat ini. Makin stabil karier kita, makin kita merasa bahwa kita memang baik di bidang yang saat ini kita tekuni. Kalau begini, siapa yang butuh lompatan? Lompatan membutuhkan tenaga ekstra, kerja keras, dan semangat belajar yang tinggi. Kita tentu menyadari bahwa lompatan karier akan meningkatkan penghasilan, menambah pengalaman, dan yang utama meningkatkan rasa harga diri dan kepuasan batin. Tapi bisakah kita melakukan lompatan itu? Continue Reading »
Posted in career, life, my day, self-help | Leave a Comment »
Hari ini aku merasa mimpiku tidak lagi jauh. Mimpiku kini mendekat dan mampu kuraih. Hari ini aku mencicipi keberuntungan pemulaku. Tulisanku, Bahagia Sekarang Juga, dimuat di majalah CHIC edisi No. 32, 11-25 Maret 2009.
Aku membaca The Alchemist, novel masterpiece karya Paulo Coelho saat aku sedang jatuh. Kalimat-kalimat dalam buku itu sangat jernih terbaca dan membantuku bangkit. Dari buku itu aku mempelajari apa yang banyak dikutip orang pada berbagai kesempatan: ” Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.” Bagaimana jagat raya membantu kita meraih takdir kita? Pada halaman selanjutnya Cuelho menulis, ”Orang yang pertama kali main kartu hampir selalu menang. Keberuntungan pemula. Kenapa begitu? Sebab ada daya yang menghendaki engkau mewujudkan takdirmu; kau dibiarkan mencicipi sukses, untuk menambah semangatmu.”
Hari ini aku mencicipi keberuntungan pemulaku….. Continue Reading »
Posted in inspiration, life, my day, self-help | 2 Comments »
Kalau tulisan ini selesai dan layak dipublikasikan di blog maka tulisan ini adalah tulisan pertama saya setelah hampir 2 bulan tidak menulis. Sudah lama saya membayangkan saat ini. Saya rindu menulis.
Menulis ternyata tidak mudah seperti dikatakan beberapa buku tentang menulis. Buku-buku tersebut menggoda penulis angin-anginan sepertiku ini dengan judul-judul seperti; menulis itu gampang, menulis cerpen itu mudah, cara mudah menulis novel, atau cara mudah menjadi penulis skenario terkenal. Lalu bertanyalah saya, segampang itukah menulis novel? Kalau sebegitu gampangnya, kenapa Virginia Wolf atau Ernest Hemingway memilih bunuh diri ketika mereka sudah merasa tidak mampu lagi menghasilkan karya yang lebih indah dari karya mereka terdahulu?
Itulah masalah saya dan mungkin kalian juga, menulis tidak mungkin gampang. Tidak mungkin. Mana mungkin membuat karya seindah The Old Man and The Sea disebut gampang? Well, gampang buat otak Hemingway tapi tidak untuk otak Sakdiyah. Apakah ini yang membuat saya berhenti atau paling tidak malas menulis? Apakah kita akan berhenti begitu saja hanya dengan alasan kita bukan Hemingway atau Gunawan Muhamad? Jelas kita bukan mereka dan tidak akan jadi mereka kalau kita masih jadi penulis angin-anginan. Penulis yang hanya berangan menjadi besar tanpa sungguh-sungguh berusaha. Bagaimana caranya agar kita bergairah menulis? Sebelum bicara obat, tentu kita harus bicara penyakitnya dulu.
Mengapa menulis begitu sulit? Continue Reading »
Posted in inspiration, self-help | 2 Comments »
Situasi perempuan masa kini yang sudah banyak mendapat kesempatan pendidikan dan mendapat kesempatan untuk terlibat di work force dan public institution sebenarnya tidak serta merta bisa di klaim sebagai ’hasil perjuangan kartini atau kelanjutan dari kongres perempuan di masa lalu itu’. Pengalaman menunjukkan bahwa perempuan menjadi ’emancipated’ lebih banyak karena tuntutan kapitalisme yang membuat lapangan kerja tersedia luas dan perlu diisi oleh siapa saja termasuk perempuan. Continue Reading »
Posted in human rights, life, women | 1 Comment »
These past few weeks I have been struggling to overcome the so-called crisis in my personal life. I have been dealing with a major change in my life this past three months and it turns out that as much as change is necessary and promising, it is also challenging. It has been giving a hard time and driving me to my conscious of my personal existence in this world. Continue Reading »
Posted in inspiration, life, my day, self-help | 2 Comments »
This is an article that I wrote quite a long time ago but I still like it. The movie is soo..good. So, enjoy the article…
My Blueberry Nights is pretty much my first introduction with Wong Kar Wai’s work. I’ve known his reputation for quite a while especially through his work 2046 and his role in Festival De Cannes in 2006 if I’m not mistaken. People say that 2046 is a unique work, kind of surrealistic, but a movie reviewer that I trust the most said that the movie is too confusing, so I decided not to watch it. Now, here I am, stunned with My Blueberry Nights that I just watched few hours ago.
We, me and my sister, choose to buy the DVD of My Blueberry Nights because it simply tells the story about women, and partly because it’s Jude Law and Natalie Portman. I’m in love with those two, especially Natalie Portman. Well, after watching the movie I can say that we have made the right decision. The movie was great, sweet, and soft, like eating a piece of blueberry pie with an ice cream and listening to jazz in the afternoon. Not too romantic, but sweet, nice, and cozy.
For me, the movie answer a simple yet very deep question, how far would you go just to cross the street? In life we always involve with series of event that break us down. These events mostly related to relationship. People can be good at what their doing professionally, academically, artistically, or whatever things that become their passion. However, when it comes to relationship, people can be real smart and real stupid at the same time. Moreover, we tend to keep the same pattern of a roller coaster ride of relationship that almost always ended up in a painful broken heart. Yes, we will repeat that same pattern over and over again until the patterns suddenly hits you hard enough to make you realize that love shouldn’t be such a hard work just like what Dorothy Boyd said to Jerry Maguire.
So, how far would you go to realize that it’s not that hard to cross the street? To embrace what can be closely define as love although the word love is not on the scene. Watch My Blueberry Nights and you’ll find out.
Posted in film, love, women | Leave a Comment »
Beberapa bulan yang lalu saya pergi ke suatu desa di Kabupaten Grobogan untuk kebutuhan pekerjaan dan tidak mengharapkan apa-apa selain bekerja. Saya ternyata sangat beruntung karena mendapatkan jauh lebih banyak dari sekedar bekerja. Saya mendapatkan inspirasi, dan inspirasi itu mahal lho..
Desa itu namanya Desa Gunung Tumpeng. Seperti kebanyakan desa di Jawa, desa itu asri, adem, dan hangat sekaligus. Kita sungguh bisa merasakan kehangatan masyarakatnya. Salah satu teman—well, friend and boss—memperhatikan satu hal yang jelas tidak mungkin kita temui di Solo. Sepeda motor bagus ’teronggok’ begitu saja di tepi jalan tak terkunci. Pemiliknya mungkin tidak jauh dari situ, tapi yang jelas atmosfer kekhawatiran bahwa motor tersebut akan dicuri orang. Di Solo dan tentu di banyak daerah lain, pemandangan ini tidak akan kita jumpai. Jika kita punya motor dan membawanya ke tempat umum, maka kita pasti menguncinya dan sebentar-sebentar mengawasinya.
Okey, wait a minute people..bagi anda yang sudah memiliki ide nakal di pikiran anda..tunggu sebentar. Desa ini tentu bukan Motorcycle heaven dimana sebentar motor tergeletak dimana-mana tanpa ada pemilik dan ’menanti pemilik baru’. Desa ini hanya desa kecil dimana penduduknya sadar untuk tidak mengambil hak orang lain. Selain motor yang terdampar di jalan, rumah-rumah juga terbuka lebar tanpa ada yang repot-repot berpikir untuk menguncinya atau membangun gerbang di depannya. Mengapa demikian? Menurut saya salah satu penjelasannya adalah masyarakat desa tersebut adalah masyarakat yang berkeadilan. Continue Reading »
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Saya percaya kalau setiap manusia terlahir ke dunia ini untuk alasan tertentu atau paling tidak mereka lahir untuk mengerjakan suatu hal tertentu. Tidak banyak orang yang dapat merasakan nikmatnya melakukan sesuatu yang ‘she was born to do’ dan saya tidak mau menjadi orang itu. Saya selalu mencari what I was born to do dengan mencoba berbagai pekerjaan yang mungkin saya dapatkan dan yang sekiranya menarik untuk saya. Saya percaya bahwa ketika saya sudah menemukannya saya akan memiliki energi tak terbatas tanpa banyak memikirkan kompensasi finansial dan dengan begitu saya akan bahagia
Selepas kuliah saya bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan anak. Awalnya saya merasa sangat bergairah. Betapa tidak, bekerja untuk anak-anak terasa sangat mulia dan saya yakin saya tidak hanya bekerja tetapi melakukan sebuah pengabdian. Gairah ini ternyata tidak bertahan lama. Setelah kurang lebih satu setengah tahun bekerja saya mulai merasakan kejenuhan tidak tertahankan. Saya merasa sesungguhnya saya tidak banyak melakukan pengabdian karena saya juga menggantungkan nafkah hidup dari pekerjaan ini. Saya berpikir jika saya dapat mencari sumber penghasilan lain maka saya dapat melanjutkan kegiatan-kegiatan sosial saya dengan sepenuh hati karena persoalan finansial sudah terselesaikan.
Saya kemudian mencoba berbagai pekerjaan mulai dari menjadi penerjemah, interpreter, menulis cerita anak-anak, sampai menjadi “motivational speaker” di berbagai organisasi mahasiswa dan organisasi masyarakat. Sebagian dari kegiatan ini membawa manfaat finansial dan sebagian membawa kepuasan batin, namun tidak ada satupun diantaranya yang dapat membuat saya berkata ‘This is it! This is what I was born to do’ sampai saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi dosen Bahasa Inggris di almamater saya.
Profesi dosen bagi sebagian orang memang bukan pekerjaan impian karena tidak banyak mendatangkan manfaat finansial tapi saya sangat menikmatinya. Saya dapat bertemu dengan banyak anak muda yang masih memiliki semangat dan energi tak terbatas. Setiap hari saya merasa terinspirasi dengan kisah-kisah dan cita-cita mereka. Energi mereka mempengaruhi saya untuk menjadi makin positif tiap harinya. Di tengah kebahagiaan dan gairah yang menyala, terselip keraguan akankah saya bertahan? Saya khawatir kejenuhan akan membuat saya berpikir untuk berganti pekerjaan lagi dan membuang banyak waktu saya untuk mempelajari berbagai hal baru yang akhirnya tidak saya tekuni.
Keraguan saya terjawab baru-baru ini pada sebuah obrolan ringan di tempat parkir di kampus dengan salah satu mahasiswa saya (his nick name is chappy–thanks chappy). Mahasiswa saya menggambar sebuah titik di kertas dan bertanya pada saya, “Miss, apa yang anda lihat?” Saya menjawab, “Saya melihat sebuah titik.” Mahasiswa saya melanjutkan, “Sebenarnya yang anda lihat bukan hanya sebuah titik, Miss. Anda juga melihat kertas, melihat logo merek kertas, melihat pensil, melihat tangan saya juga. Hidup tidak perlu hanya menjadi sebuah titik yang menjadi tujuan dan sasaran kita, Miss. Banyak hal lain yang bisa kita lihat secara bersamaan.”
Pembicaraan itu benar-benar menyadarkan saya, bahwa sementara saya mencari sebenarnya saya telah melakukan banyak hal yang tidak perlu saya hentikan hanya karena saya merasa belum menemukan what I was born to do. Bisa jadi saya terlahir untuk melakukan banyak hal dengan potensi yang saya miliki bukan hanya satu hal yang spesifik. Sebenarnya saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan untuk apa saya terlahir tetapi bagaimana saya memanfaatkan anugerah terlahir di dunia ini. Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan saja. Melakukan apa saja yang mampu saya lakukan dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengangankan kebahagiaan, inspirasi, dan kesempatan mengabdi yang akan dimiliki jika saya mendapat pekerjaan tertentu karena saya bisa bahagia sekarang juga, bisa mendapat banyak inspirasi sekarang juga, dan bisa mengabdi serta berbuat untuk orang lain sekarang juga. ***
Sakdiyah Ma’ruf
Solo, 6 Januari 2009
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
Tulisan ini adalah tulisan tentang pengalamanku membaca karya Seno Gumira Ajidarma yang baru saja kukenal dan pengalamanku dengan parfum yang sudah kukenal sejak aku masih SD.
Saat ini, aku sendiri baru kenalan sama karya-karyanya seno gumira,
baru baca romannya yang berjudul; Jazz, Parfum, dan Insiden
Wah keren banget, I can really relate to the story..
I love Jazz, and I know some of the musician written in the book.
Ceritanya pada suatu hari aku pergi beli parfum sama seorang teman
yang ternyata number one fans nya Seno.
Sambil milih-milih parfum, aku cerita sama dia klo bagiku milih parfum
itu sangat penting..hampir sama kaya cari jodoh. Ketika menghirup
aroma parfum, indra pencium kita biasanya bereaksi dan bilang klo ini
harum atau tidak, enak atau tidak..
Tapi bagiku, parfum yang hanya menggoda hidung bukan pilihan. Parfum
yang pas adalah parfum yang berhasil menginjeksi otak dan kena di
hati..
Kalau aku, bukan aroma yang kucari tapi ingatan akan aroma tersebut,
Ada parfum yang membuatku ingat masa kecil, ingat orang-orang yang
kucintai, ingat orang-orang yang tidak kusukai, ingat peristiwa
tertentu, ingat masa-masa aku merasa senang, ingat masa jatuh cinta,
ingat saat merasa bergairah, ingat saat sedih dan banyak yang lain.
Parfum yang kucari juga parfum yang dapat membangkitkan perasaan
tertentu, perasaan sedih, senang, bahagia, sendu, ceria, semangat,
dan lain-lain..
Masing-masing orang punya parfumnya sendiri, yang sungguh pas dan
tidak hanya membuat ia wangi tapi setiap ruap aromanya menggambarkan
diri orang tersebut.. aku juga cukup pintar lho memilih parfum yang
menggambarkan diri seseorang..tapi tentu saja aku harus sangat kenal dengan orang tersebut. Parfum untuk bapakku misalnya. Parfum tersebut harus beraroma kuat tapi sangat harum. Artinya bukan one of those parfum pria yang sangat keras sekaligus segar tetapi parfum pria yang berkarakter. Aromanya tajam, kuat, dan memiliki sense rempah yang kentara. Itulah bapakku. Orang yang berkarakter, kuat keinginannya, tetapi kadang tinggi hati juga. So, ada yang mau dipilihin parfum? hehehe..
Nama, wajah, atau peristiwa kita bisa lupa, tapi aroma tinggal dan
membekas..paling tidak bagiku..
Nah, semua ini dalam versi yang lebih singkat kuceritakan sama
temanku yang penggemar Seno itu..trus jadi deh dia meminjamiku Jazz,
Parfum, dan Insiden..’
Dari buku itu aku dapat beberapa referensi parfum. Beberapa
diantaranya aku cukup familiar..
Misalnya Escape Calvin Klein. Kata Seno dibukunya, Escape dibuat
Calvin menyusul parfum sebelumnya Eternity. Seperti judulnya Escape
mewakili hal-hal yang beyond Eternity. Mewakili semangat “pergi
dari..”
Well, bagiku parfum Escape baunya sangat sejuk, bukan sejuknya mint
atau pegunungan tapi sejuknya tanah, kertas, dan daun-daunan yang kena
embun di pagi hari..klo dihirup dalam-dalam dan agak lama,
woww..intoxicated. Awalnya ga terlalu harum sih, tapi lama-kelamaan
membawa perasaan yang hangat karena kesejukan dari suatu tempat yang
jauh yang sangat kita rindukan..
Pengalaman yang seperti ini yang membuatku merasa dekat dengan buku
itu..
O ya, ada satu parfum yang belum pernah kukenal yang disebutkan di
buku itu. Namanya Poison, karya Calvin Klein juga..gila aku penasaran
banget..
So bagi anda yang punya karya Seno, karya Calvin Klein, atau
pernah nemu parfum Poison, atau punya pengalaman dengan parfum, atau
mo minta dipilihin parfum just contact me..he..he..
miss you and the scent of you…
Sakdiyah, 10 Juli 2008. Menulis sambil membayangkan Ralph Lauren Blue….
Posted in life, love | 2 Comments »